DPD Gapeknas Jatim Soroti Anjloknya Jumlah Badan Usaha Konstruksi

- Penulis

Rabu, 1 Oktober 2025 - 17:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sentralmerahputih.id | Surabaya – Sektor jasa konstruksi di Jawa Timur menghadapi tantangan serius. Data menunjukkan, jumlah badan usaha jasa konstruksi yang memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU) di provinsi ini anjlok drastis dalam empat tahun terakhir.

Jika pada akhir 2020 tercatat lebih dari 14.000 badan usaha, kini jumlahnya menyusut hingga kurang dari 3.000. Artinya, lebih dari 11.000 badan usaha hilang dari peta industri konstruksi.

Penurunan signifikan ini menimbulkan pertanyaan besar: ke mana perginya ribuan badan usaha konstruksi tersebut dan mengapa mereka enggan memperpanjang SBU?

Faktor Penyebab Penurunan

Wakil Ketua Gapeknas Jawa Timur, Muhammad Alyas SH MH, menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini.

Pertama, persyaratan pengurusan SBU yang semakin kompleks setelah terbitnya regulasi turunan dari Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.

“Dulu persyaratannya lebih sederhana. Sekarang syarat semakin banyak, sehingga pelaku usaha kecil menengah merasa keberatan,” ujarnya.

Faktor kedua adalah sulitnya mendapatkan proyek. Alyas menilai proses pengadaan proyek pemerintah, terutama yang menggunakan sistem e-procurement dan e-katalog, justru semakin tertutup.

“Sekarang mencari proyek tidak lagi fair. Diperlukan kedekatan personal dengan pihak tertentu, sehingga banyak kontraktor kecil enggan memperpanjang SBU karena merasa tidak punya akses,” tambahnya.

Dampak Hilangnya LPJK Daerah

Kondisi makin rumit sejak Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi dilikuidasi.

Seluruh kewenangan kini terpusat di Jakarta, tanpa lagi struktur di tingkat provinsi.

Padahal, keberadaan LPJK daerah sebelumnya menjadi sumber data dan informasi penting bagi pemerintah daerah.

Misalnya terkait kebutuhan tenaga kerja konstruksi di setiap kabupaten/kota, hingga pemetaan badan usaha sesuai anggaran yang tersedia.

“Sekarang data valid soal kebutuhan tenaga kerja konstruksi sulit didapatkan. Padahal dulu LPJK provinsi rutin melakukan pembinaan dan pendataan,” tegas mantan Sekretaris LPJK dua periode.

Risiko Capital Flight

Gapeknas juga mengkhawatirkan fenomena capital flight atau keluarnya dana daerah akibat proyek konstruksi dikerjakan oleh kontraktor dari luar Jawa Timur.

Alyas mencontohkan, jika sebuah kabupaten memiliki anggaran konstruksi Rp200–300 miliar, seharusnya proyek tersebut bisa memberdayakan kontraktor lokal.

Dengan begitu, dana akan berputar di daerah dan memberi dampak ekonomi positif.

“Kalau dikerjakan kontraktor luar, uang daerah justru keluar. Padahal kompetensi pengusaha dan tenaga kerja konstruksi Jatim tidak kalah dengan daerah lain,” katanya.

Baca Juga:  Jelang Ramadhan Satgas Pangan Polda Jatim Sidak Sejumlah Pasar Harga Bapokting Relatif Stabil

Dorongan untuk Pemerintah

Menurut Gapeknas, pemerintah provinsi perlu melibatkan kembali asosiasi kontraktor sebagai mitra strategis dalam pembinaan.

Forum komunikasi yang dulunya rutin digelar, seperti Forum Masyarakat Jasa Konstruksi, sudah empat tahun terakhir vakum.

“Kami berharap Dinas Cipta Karya maupun DPRD Jawa Timur proaktif mengundang asosiasi. Dengan begitu, masalah penurunan jumlah badan usaha bisa dibedah bersama untuk mencari solusi,” jelas Alyas.

Gapeknas mendorong agar paket proyek kecil hingga menengah diprioritaskan bagi kontraktor lokal, sesuai amanat UU Jasa Konstruksi.

Terlebih, kontraktor berkualifikasi kecil kini bisa mengerjakan proyek hingga Rp15 miliar.

Peran Gapeknas

Sebagai asosiasi, Gapeknas Jawa Timur yang diketuai Baso Juherman itu kini berfokus membantu anggotanya menghadapi tantangan regulasi dan digitalisasi. Beberapa langkah yang ditempuh antara lain:

1. Memfasilitasi anggota dalam memenuhi syarat administrasi SBU, termasuk sertifikat kompetensi kerja.

2. Mendorong literasi digital agar kontraktor melek IT, terutama dalam penggunaan sistem e-katalog versi terbaru.

3. Meningkatkan profesionalitas agar proyek yang dikerjakan sesuai standar mutu dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin membangun kesadaran bahwa proyek APBD itu berasal dari uang rakyat. Jadi selain mencari keuntungan, kontraktor juga harus meninggalkan karya monumental di daerahnya,” ujar Alyas.

Perlunya Kebijakan Protektif

Gapeknas menilai Jawa Timur perlu belajar dari provinsi lain yang lebih protektif terhadap kontraktor lokal. Paket proyek kecil, misalnya, sebaiknya dipastikan dikerjakan oleh pelaku usaha setempat.

“Kalau kita kontraktor Surabaya mengerjakan proyek di Surabaya, tentu lebih bertanggung jawab karena kita juga ikut menggunakan fasilitas itu. Berbeda dengan kontraktor luar yang orientasinya murni keuntungan,” tegas Alyas.

Penurunan jumlah badan usaha jasa konstruksi di Jawa Timur dari 14 ribu menjadi kurang dari 3 ribu dalam empat tahun terakhir menjadi alarm serius.

Kompleksitas regulasi, sistem pengadaan yang kurang transparan, hingga minimnya pembinaan dinilai sebagai penyebab utama.

Gapeknas mendesak pemerintah daerah membuka kembali ruang komunikasi dengan asosiasi dan memberikan keberpihakan pada pengusaha lokal.

Tanpa langkah nyata, sektor konstruksi Jatim dikhawatirkan makin terpuruk dan potensi ekonomi daerah justru dinikmati pihak luar. (*)

Berita Terkait

Hiswana Migas Jatim Pastikan Pasokan LPG Terkendali di Tengah Isu Kenaikan Harga
Dinilai Punya Visi Nasional Kuat, Hipmi Jatim All Out Dukung Ade Jona Sebagai Ketum Hipmi Periode 2026-2029
Harga Avtur Melonjak Hingga 70 Persen, INACA Desak Pemerintah Naikkan Fuel Surcharge dan TBA Tiket Pesawat
Pastikan Harga Bapokting Stabil, Bapanas RI dan Polres Gresik Lakukan Sidak Pasar
Tingkatkan SDM Sektor Konstruksi, Disperindag Gandeng Gapeknas Surabaya Beri Pelatihan Tukang Bangunan Gedung
Silaturahmi Dengan Gapeknas Surabaya, Bank Surya Artha Utama Siap Bantu Kontraktor Hadapi Penundaan Pembayaran Proyek
Ini Keuntungan Gabung Gapeknas Surabaya, Jaringan Bisnis Luas, Advokasi, Hingga Peningkatan Daya Saing
DPD Gapeknas Surabaya Dukung Percepatan Sertifikasi Tenaga Tukang Warga Surabaya
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 20:30 WIB

Kapolres Bojonegoro Kulonuwun ke Ketua MUI, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:55 WIB

Polsek Kebomas Gandeng YALPK Group Gelar Baksos Ojol Gresik Sumringah Dapat Sembako dan BBM Gratis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Kapolda Jatim Dampingi Wamenhub Serahkan Santunan Korban KM Mutiara Sentosa II

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:05 WIB

Kapolres Bojonegoro Sambangi Padepokan PSHT, Ajak Jaga Kerukunan dan ‘Jogo Bojonegoro

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:01 WIB

Polres Pelabuhan Tanjungperak Dampingi Korban Peristiwa KM Mutiara Sentosa II, Pastikan Penanganan Maksimal

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Tim DVI Polda Jatim Serahkan Dua Jenazah Korban KM Mutiara Sentosa II kepada Keluarga

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:57 WIB

Tim DVI Polda Jatim Berhasil Identifikasi Lima Jenazah Korban KM Mutiara Sentosa II

Selasa, 4 Agustus 2026 - 08:20 WIB

Polri Gerak Cepat Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Padang

Berita Terbaru