Agama Di Bibir Korupsi Di Tangan : Ironi Umat Islam Indonesia di Tengah Krisis Integritas dan Ketidakmampuan Kolektif Menghadapi Budaya Korupsi

- Penulis

Minggu, 23 Maret 2025 - 11:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mangesti Waluyo Sedjati, Ketua Dewan Penasehat DPD LPKAN Indonesia Provinsi Jatim, Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah

Mangesti Waluyo Sedjati, Ketua Dewan Penasehat DPD LPKAN Indonesia Provinsi Jatim, Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah

Surabaya – Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun, ironisnya, negeri ini juga termasuk dalam daftar negara dengan tingkat korupsi yang tinggi.

Di satu sisi, syiar Islam begitu hidup. masjid megah dibangun di berbagai penjuru, pengajian diikuti ribuan orang, dan perjalanan umrah menjadi bagian dari gaya hidup kelas menengah.

Di sisi lain, praktik korupsi merajalela di ruang-ruang kekuasaan, pemerintahan, bahkan lembaga pendidikan dan keagamaan.

Fenomena ini memperlihatkan jurang antara agama yang diucapkan dan nilai-nilai integritas yang dijalankan, antara ritual yang semarak dan etika sosial yang luntur.

Artikel ini berupaya membedah secara mendalam bagaimana umat Islam di Indonesia berada dalam pusaran budaya korupsi dan bagaimana masyarakat menunjukkan tingkat permisifitas yang tinggi terhadap kejahatan moral dan hukum tersebut.

Ajaran Islam tentang Korupsi: Tegas dan Tidak Toleran

Islam sebagai agama yang diturunkan untuk menegakkan keadilan, menempatkan korupsi sebagai bentuk pengkhianatan terhadap amanah dan kezaliman terhadap rakyat.

Dalil-Dalil Anti-Korupsi dalam Islam:
QS. Al-Baqarah: 188
“Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu menyuap hakim.”

HR. Abu Dawud No. 2940
“Rasulullah melaknat orang yang memberi suap, menerima suap, dan perantara di antara keduanya.”

QS. Al-Anfal: 27
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan jangan (pula) kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu.”

Korupsi dalam perspektif Islam bukan hanya soal hukum positif, tetapi menyangkut *iman, akhlak, dan hisab di akhirat*. Maka, koruptor bukan hanya pelanggar hukum negara, tapi juga pelanggar hak-hak manusia dan pengkhianat kepercayaan publik.

Realitas yang Bertolak Belakang: Korupsi Merajalela di Negeri Mayoritas Muslim

Data Empiris:
1. Indeks Persepsi Korupsi (CPI) – Transparency International 2023:
Skor Indonesia: 34/100
Peringkat: 115 dari 180 negara
Turun dari skor 40 pada tahun 2019.
2. Laporan KPK (2023):
Total kasus korupsi ditangani sejak 2004: 1.500+ kasus.
Lebih dari 65% pelaku berasal dari partai politik atau pejabat daerah.
3. Survei LSI (2022):
64% responden menyatakan korupsi “sudah biasa”.
38% masyarakat bisa mentoleransi pejabat korup asal “masih dermawan.”
59% percaya bahwa “semua orang akan korupsi kalau diberi kesempatan.”

Ironi yang Terjadi:

Banyak pelaku korupsi adalah tokoh publik berpenampilan agamis, rajin umrah, memberi ceramah, bahkan membangun masjid dari dana yang terindikasi hasil korupsi.

Hal ini memperlihatkan terjadinya sekularisasi etika, di mana agama hanya menjadi simbol, bukan sistem nilai yang hidup.

Permisifitas Umat Islam Indonesia terhadap Korupsi

1. Budaya Patron-Klien dan Feodalisme Religius

Masyarakat masih cenderung menghormati pemimpin bukan karena integritas, tetapi karena jabatan dan “kedermawanan”.

Jika pejabat menyumbang pembangunan masjid atau menggelar pengajian akbar, maka rekam jejak korupsinya cenderung dimaafkan. Agama digunakan sebagai alat legitimasi, bukan kompas moral.

2. Religiusitas Simbolik, Bukan Substantif

Menurut riset Maarif Institute (2021), mayoritas umat Islam Indonesia memiliki religiusitas ritualistik, bukan etis.

Agama dipahami sebagai kumpulan kewajiban pribadi, bukan sistem moral dan sosial. Akibatnya, praktik korupsi tidak dirasa bertentangan dengan ibadah ritual.

3. Pendidikan Agama yang Tidak Menyentuh Etika Publik

Pelajaran agama di sekolah-sekolah dan pesantren sering kali terlalu menekankan ibadah dan hukum-hukum fikih, tetapi minim bahasan tentang etika publik, keadilan sosial, dan tanggung jawab sosial. Ini memperkuat sikap permisif terhadap korupsi yang dianggap “urusan dunia.”

Baca Juga:  "Akal Sebagai Tiang Penyangga" Oleh: H. Adi Gunawan, S.H., M.A., M.H., M.Sos

4. Diamnya Tokoh Agama dan Ormas Islam

Banyak tokoh agama atau ormas Islam bersikap ambigu terhadap kasus korupsi yang melibatkan pejabat yang sejalan secara politik atau ideologis. Ketika ulama bersikap selektif dalam mengecam korupsi, umat menjadi bingung: mana korupsi yang benar-benar salah, dan mana yang bisa dimaklumi.

Akar Teoritis dan Sosiologis Budaya Korupsi

Teori Budaya Korupsi (Robert Klitgaard):

Korupsi = Monopoli + Diskresi – Akuntabilitas

Dalam konteks Indonesia, diskresi politik tinggi, akuntabilitas rendah, dan masyarakat permisif. Maka, struktur negara cenderung menghasilkan budaya korupsi sistemik.

Teori Tahapan Moral (Kohlberg):

Mayoritas masyarakat masih berada pada tahapan konvensional: menilai benar-salah dari persepsi kelompok, bukan prinsip universal. Maka, jika koruptor berasal dari “golongan sendiri,” ia tetap dihormati.

Dampak Budaya Permisif terhadap Masa Depan Bangsa
1. Krisis Keteladanan Nasional Generasi muda kehilangan panutan moral.

Mereka menyaksikan tokoh agama, guru, dan pejabat justru menjadi pelaku korupsi atau penikmat hasilnya.
2. Dekadensi Institusi Keagamaan dan Pendidikan

Ketika institusi agama tidak bersuara atau justru “bermain mata” dengan pelaku korupsi, publik kehilangan kepercayaan terhadap moralitas kolektif.
3. Normalisasi Kejahatan Publik
Korupsi menjadi bagian dari “sistem sosial” yang dianggap lumrah. Ini lebih berbahaya daripada korupsi itu sendiri.

Rekomendasi dan Solusi

1. Revolusi Etika Publik dalam Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan agama harus direformasi untuk menekankan etika sosial, anti-korupsi, dan tanggung jawab publik.

Pesantren, madrasah, dan sekolah Islam harus jadi pelopor pendidikan moral substantif, bukan simbolik.

2. Gerakan Ulama Anti-Korupsi
Ulama, dai, dan muballigh harus tegas dan konsisten mengecam korupsi di mimbar-mimbar, tanpa tebang pilih.
Perlu lahir “fiqih anti-korupsi” yang kontekstual dan aplikatif.

3. Kampanye Anti-Permisifitas Sosial
Masyarakat harus dididik bahwa memberi suara atau memaafkan koruptor adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat.
Kampanye publik harus menggandeng tokoh agama, influencer, dan media Islam.

4. Penegakan Hukum Tanpa Diskriminasi
Hukum harus ditegakkan secara adil dan menyeluruh, tanpa pandang bulu.
Koruptor harus dijatuhi hukuman sosial dan simbolik, agar menjadi pelajaran publik.

Penutup

“Agama di bibir, korupsi di tangan”. bukan hanya frasa satir, tetapi realitas sosial umat Islam Indonesia hari ini.

Ketika ajaran Islam hanya berhenti di lisan, tanpa membentuk karakter dan integritas, maka agama hanya menjadi ornamen di tengah kebusukan sistemik*.

Saatnya umat Islam Indonesia bangkit, merebut kembali ruh ajaran Islam yang sejati. Menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, dan membangun masyarakat dengan integritas.

Jika tidak, umat akan terus hidup dalam kemunafikan kolektif berzikir dengan tasbih, tapi memperkaya diri dari uang haram rakyat.

Penulis: Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua Dewan Penasehat DPD LPKAN INDONESIA PROP JATIM, Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah.

Referensi:
1.Transparency International (2023). Corruption Perception Index_
2.LSI (2022). Survei Persepsi Publik terhadap Korupsi
3.KPK (2023). Laporan Tahunan Penindakan Kasus Korupsi
4.Klitgaard, R. (1988). Controlling Corruption.
5.Mahfud MD (2009). Politik Hukum di Indonesia.
6.Maarif Institute (2021). Religiusitas dan Etika Publik Umat Islam
7.Kohlberg, L. (1981). Essays on Moral Development.

Berita Terkait

“Akal Sebagai Tiang Penyangga” Oleh: H. Adi Gunawan, S.H., M.A., M.H., M.Sos
Kasus Korupsi Wamen Imipas: Dr. Fachrul Razi Desak Reformasi Total Ditjen Imigrasi
Jumat Pagi dan Pilkada DPRD
Setiap Langkah Kecil Berhak Menggapai Puncak yang Tinggi
Dampak merokok terhadap kesehatan dan keluarga: bahaya nyata yang sering diabaikan
Keteladanan Pemimpin dalam Menjaga Ideologi Pancasila
Jusuf Kalla (JK) Telah Menyalakan Obor Keadilan dari Makassar
Whoosh dan Komitmen Anti Korupsi Itu: Omon-omon? Oleh : Agus Wahid
Berita ini 16 kali dibaca
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 16:40 WIB

Menanam Hari Ini, Menjaga Masa Depan: Polres Magetan Hijaukan Lingkungan Mako

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:50 WIB

Respons Cepat Polres Blitar Kota dan Tim Jibom Brimob Polda Jatim Berhasil Evakuasi Bom Udara Aktif

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:47 WIB

Tutup Pendidikan 282 Capaja Polri, Wakapolri Sampaikan Pesan Kapolri

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:26 WIB

Empati Tanpa Batas, Polres Bondowoso Bantu Keluarga Bayi Kembar yang Kehilangan Ibu

Jumat, 10 Juli 2026 - 10:20 WIB

Komisi III DPR RI Apresiasi dan Dukung Kortas Tipikor Polri Usut Dugaan Korupsi Batu Bara

Kamis, 9 Juli 2026 - 18:48 WIB

Doa Mengiringi Pengabdian, Polres Magetan Gelar Sholat Ghaib untuk Tiga Bhayangkara Polres Katingan yang Gugur Saat Bertugas

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:35 WIB

Polresta Sidoarjo Luncurkan SIMANTAP, Layani Pengurusan SIM di Malam Hari

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:33 WIB

Ketua Komisi III DPR RI Dukung Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU

Berita Terbaru