Rebo Wekasan 2026 Jatuh Hari Ini, Benarkah Hari Turunnya Bala?

- Penulis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sentralmerahputih.id | Surabaya – Rebo Wekasan kembali menjadi perhatian masyarakat Muslim Indonesia.

Tradisi yang identik dengan Rabu terakhir bulan Safar tersebut jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Bagi sebagian masyarakat, Rebo Wekasan menjadi momentum untuk memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah hingga menggelar doa bersama.

Namun, tradisi tersebut juga tidak lepas dari perdebatan mengenai keyakinan bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan waktu turunnya berbagai bala atau musibah.

Persoalan tersebut penting dipahami secara proporsional.

Sebab, terdapat perbedaan antara tradisi keagamaan masyarakat, amalan yang secara umum dianjurkan dalam Islam, dan ibadah khusus yang benar-benar memiliki landasan syariat.

Apa Itu Rebo Wekasan?

Rebo Wekasan merupakan istilah yang digunakan masyarakat Nusantara untuk menyebut hari Rabu terakhir pada bulan Safar.

Dalam tradisi Jawa, “Rebo” berarti Rabu, sedangkan “wekasan” bermakna terakhir atau penghujung.

Di sejumlah daerah, tradisi ini juga dikenal dengan nama Rebo Kasan atau Rebo Pungkasan.

Tradisi tersebut berkembang di berbagai wilayah Indonesia dan bentuk pelaksanaannya tidak seragam.

Ada masyarakat yang mengisinya dengan pengajian, doa bersama, zikir, sedekah, selamatan, hingga kegiatan sosial.

Sebagian masyarakat juga mengaitkan Rebo Wekasan dengan keyakinan bahwa pada hari tersebut terjadi turunnya berbagai bala atau musibah.

Keyakinan inilah yang kemudian melahirkan berbagai ritual yang disebut sebagai upaya memohon perlindungan atau tolak bala.

Namun, dalam kajian keislaman, keyakinan tersebut tidak bisa begitu saja dianggap sebagai ketentuan agama yang disepakati seluruh ulama.

Rebo Wekasan 2026 Jatuh pada 12 Agustus

Untuk tahun 2026, Rebo Wekasan jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Hari tersebut merupakan Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah yang digunakan sebagai acuan di Indonesia.

Karena kalender Hijriah mengenal pergantian hari sejak matahari terbenam, masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut umumnya mulai melakukan rangkaian kegiatan sejak Selasa malam, 11 Agustus 2026, setelah Magrib.

Dengan demikian, momentum Rebo Wekasan 2026 berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2026, dengan sebagian masyarakat telah memulai kegiatan keagamaannya sejak malam sebelumnya.

Mengapa Rebo Wekasan Dikaitkan dengan Bala?

Keyakinan mengenai Rebo Wekasan sebagai waktu turunnya bala telah lama berkembang dalam sebagian tradisi keislaman Nusantara.

Adanya keterangan dalam literatur keagamaan yang menyebut bahwa pada Rabu terakhir bulan Safar terdapat sejumlah bala yang diturunkan.

Salah satu sumber yang sering dikaitkan dengan keterangan tersebut adalah kitab Kanzun Najah was-Surur fi Fadhail al-Azminah wash-Shuhur karya Syekh Abdul Hamid Quds.

Namun, keterangan tersebut tidak dapat disamakan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang sahih.

Karena itu, persoalan Rebo Wekasan harus ditempatkan secara hati-hati.

Masyarakat boleh menjadikannya sebagai momentum untuk memperbanyak amal kebaikan, tetapi tidak semestinya meyakini bahwa Rabu terakhir Safar secara pasti merupakan hari sial atau hari yang dengan sendirinya mendatangkan musibah.

Islam Tidak Mengenal Bulan Safar sebagai Bulan Sial

Salah satu persoalan penting yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan yang membawa kesialan.

Dalam ajaran Islam, tidak terdapat dasar yang membenarkan keyakinan bahwa suatu bulan atau hari memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan dengan sendirinya.

Karena itu, umat Islam tetap diperbolehkan melakukan berbagai aktivitas pada bulan Safar, termasuk bepergian, menikah, berdagang, bekerja, membangun rumah maupun kegiatan lainnya.

Rebo Wekasan seharusnya tidak membuat masyarakat hidup dalam ketakutan atau menganggap bahwa musibah pasti terjadi hanya karena kalender menunjukkan Rabu terakhir bulan Safar.

Lalu, Amalan Apa yang Dianjurkan?

Jika Rebo Wekasan dijadikan momentum meningkatkan ketakwaan, terdapat sejumlah amal saleh yang dapat dilakukan.

Yang perlu digarisbawahi, amalan berikut merupakan ibadah yang secara umum memang dianjurkan dalam Islam, bukan berarti semuanya merupakan ritual wajib atau sunnah khusus yang ditetapkan Nabi Muhammad SAW untuk Rebo Wekasan.

1. Memperbanyak Doa

Doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang dapat dilakukan kapan saja.

Pada Rebo Wekasan, masyarakat dapat berdoa memohon keselamatan, kesehatan, keberkahan rezeki, perlindungan keluarga, serta dijauhkan dari berbagai bentuk musibah.

Yang terpenting, permohonan tersebut ditujukan kepada Allah SWT.

2. Memperbanyak Zikir

Zikir dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus melakukan introspeksi.

Membaca istighfar, tasbih, tahmid, takbir, salawat dan berbagai bentuk zikir lainnya dapat dilakukan sebagai bagian dari upaya memperbanyak amal saleh.

3. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an juga dapat menjadi pilihan amalan.

Masyarakat dapat mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an secara pribadi maupun mengikuti kegiatan pengajian atau khataman yang diselenggarakan di masjid, musala, pesantren atau lingkungan masyarakat.

Namun, tidak tepat jika membaca surat tertentu kemudian dianggap sebagai kewajiban khusus Rebo Wekasan tanpa dasar yang jelas.

4. Bersedekah

Sedekah menjadi salah satu amalan yang memiliki nilai sosial sangat kuat.

Rebo Wekasan dapat dimanfaatkan sebagai momentum membantu masyarakat yang membutuhkan, berbagi makanan, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, maupun memberikan bantuan kepada tetangga.

Dengan demikian, tradisi tidak berhenti pada ritual, tetapi menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga:  Dukung Target Swasembada Pangan Nasional. SSDM Siapkan Calon Polisi Dengan ... SKIL dan Program Pertanian yang Melibatkan Masyarakat

5. Memperkuat Silaturahmi

Mengunjungi keluarga, memperbaiki hubungan dengan orang lain, meminta maaf dan membantu sesama juga dapat dilakukan.

Nilai tersebut bahkan dapat menjadi salah satu substansi penting dalam tradisi Rebo Wekasan: menjadikan momentum keagamaan sebagai sarana memperkuat hubungan sosial.

6. Introspeksi Diri

Rebo Wekasan juga dapat dimaknai sebagai momentum muhasabah.

Masyarakat dapat mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki kesalahan, meninggalkan perbuatan buruk dan meningkatkan kualitas ibadah.

Dengan perspektif tersebut, Rebo Wekasan tidak perlu dipahami sebagai hari yang menakutkan, tetapi sebagai momentum untuk memperbaiki diri.

Bagaimana dengan Salat Rebo Wekasan?

Inilah salah satu bagian yang paling sering menimbulkan perdebatan.

Sejumlah masyarakat mengenal ritual salat Rebo Wekasan, bahkan dengan tata cara dan bacaan tertentu.

Namun, tidak terdapat nash yang secara tegas menganjurkan salat khusus Rebo Wekasan.

Karena itu, apabila seseorang meyakini terdapat salat khusus yang disyariatkan Nabi untuk Rabu terakhir bulan Safar, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar nash yang jelas.

Dalam kajian lain, salat sunnah mutlak tetap dibahas sebagai bentuk ibadah yang dapat dilakukan, dengan catatan tidak menganggapnya sebagai salat khusus yang disyariatkan untuk Rebo Wekasan.

Dengan kata lain, persoalannya bukan pada larangan seseorang beribadah kepada Allah pada hari Rabu terakhir Safar, melainkan pada penetapan ritual khusus sebagai bagian dari syariat tanpa landasan yang kuat.

Bagaimana dengan Salat Tolak Bala?

Sebagian masyarakat juga mengenal istilah salat tolak bala yang dilakukan pada Rebo Wekasan.

Ritual tersebut berkembang dalam sebagian tradisi masyarakat sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan Allah SWT.

Namun, jika dilihat dari perspektif fikih, tidak ada ketentuan yang secara tegas menetapkan adanya salat khusus bernama “salat tolak bala Rebo Wekasan” yang diwajibkan atau disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyampaikan informasi keagamaan agar tidak mengubah tradisi menjadi seolah-olah kewajiban agama.

Mengapa Ada Perbedaan Pendapat Ulama?

Perbedaan tersebut muncul karena terdapat dua persoalan yang berbeda.

Pertama, tradisi masyarakat yang berkembang secara turun-temurun.

Kedua, status ritual keagamaan tertentu yang diklaim sebagai bagian dari syariat.

Adanya pandangan yang menolak penetapan salat Rebo Wekasan sebagai salat khusus karena tidak terdapat nash yang jelas.

Di sisi lain, terdapat ulama yang membahas pelaksanaan salat sunnah mutlak pada momentum tersebut, dengan syarat tidak diniatkan sebagai salat khusus Rebo Wekasan.

Perbedaan tersebut sebaiknya tidak menjadi alasan untuk saling mencaci atau menghakimi.

Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh agar dapat mengambil sikap berdasarkan pengetahuan.

Rebo Wekasan antara Tradisi dan Syariat

Rebo Wekasan merupakan contoh bagaimana Islam dan kebudayaan lokal berkembang berdampingan di Indonesia.

Tradisi doa bersama, sedekah, selamatan, pengajian dan kegiatan sosial dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama tidak bertentangan dengan prinsip agama.

Namun, batas antara tradisi dan syariat perlu tetap jelas.

Sebuah tradisi tidak otomatis menjadi sunnah hanya karena telah dilakukan turun-temurun.

Sebaliknya, kegiatan sosial dan ibadah yang memang memiliki dasar umum dalam Islam tidak harus ditinggalkan hanya karena dilakukan bertepatan dengan Rebo Wekasan.

Kuncinya adalah niat, keyakinan dan cara pelaksanaannya.

Jangan Takut Menghadapi Rebo Wekasan

Rebo Wekasan 2026 seharusnya tidak dipahami sebagai hari yang harus ditakuti.

Tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menghentikan seluruh aktivitas kehidupan hanya karena memasuki Rabu terakhir bulan Safar.

Sebaliknya, momentum tersebut dapat digunakan untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, bersedekah dan melakukan introspeksi.

Jika seseorang ingin berdoa agar terhindar dari musibah, hal tersebut merupakan bentuk permohonan kepada Allah.

Jika ingin bersedekah, hal itu merupakan amal kebaikan.

Jika ingin membaca Al-Qur’an dan memperbanyak zikir, keduanya juga merupakan ibadah yang dianjurkan secara umum.

Yang perlu dihindari adalah menganggap hari, bulan atau tanggal tertentu mempunyai kekuatan mandiri untuk mendatangkan kesialan.

Rebo Wekasan 2026, Momentum Memperbanyak Kebaikan

Pada akhirnya, Rebo Wekasan 2026 yang jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, dapat dimaknai secara lebih positif.

Tradisi tersebut dapat menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, mempererat silaturahmi dan melakukan introspeksi.

Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua ritual yang berkembang dalam tradisi Rebo Wekasan mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum Islam.

Ada amalan yang memang dianjurkan secara umum, sementara ada pula ritual khusus yang masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.

Karena itu, cara paling aman dalam menyikapi Rebo Wekasan adalah menjadikannya sebagai momentum memperbanyak amal saleh tanpa meyakini bahwa bulan Safar atau Rabu terakhirnya merupakan sumber kesialan.

Dengan pemahaman tersebut, Rebo Wekasan tidak lagi sekadar dipandang sebagai tradisi “tolak bala”, tetapi dapat menjadi ruang refleksi: bagaimana manusia memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbaiki hubungan dengan sesama dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Rebo Wekasan bukan tentang ketakutan terhadap sebuah hari, melainkan tentang bagaimana manusia mengisinya dengan kebaikan.(her)

Berita Terkait

Bekti Desa di Pepunden Eyang Kapiludin, Komunitas Arek Arek Nusantara Ajak Generasi Muda Lestarikan Warisan Leluhur
Penghayat Kepercayaan di Surabaya Peringati Hari Kelahiran 13 Juli, Serukan Pelestarian Budaya dan Penghapusan Diskriminasi
KKSS dan Masyarakat Tengger Teguhkan Persaudaraan Budaya di Lereng Bromo
Perkuat Peran UMKM Lintas Suku, FPK Jatim Gelar Dialog Akselerasi Pembauran dan Seminar UMKM
Misi Budaya Makassar Perkuat Jembatan Seni dan Tradisi di Surabaya
Surin Welangon : Aplikasi Roblox Bisa Membunuh Masa Depan Anak
Tingkatkan Persatuan Untuk Indonesia Damai, Keluarga Besar Sulawesi Selatan di Surabaya Peringati Maulid Nabi Muhammad
Monumen Bung Tomo Segera Dibangun di Bundaran Waru, Simbol Keberanian Arek-arek Suroboyo
Tag :
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 18:38 WIB

Kapolri Minta Pesanggrahan Tjimande Dibuka untuk Semua Peguron

Sabtu, 19 September 2026 - 18:37 WIB

Riding ke Gunung Kelud, Polres Kediri dan Awak Media Suarakan Kesiapsiagaan Bencana

Sabtu, 19 September 2026 - 18:36 WIB

Polres Lamongan Beri Penghargaan Empat Warga yang Gagalkan Curanmor di Puskesmas Deket

Sabtu, 19 September 2026 - 14:58 WIB

Kapolri: Kompolnas Awards Motivasi Polri Berikan Pelayanan Terbaik

Sabtu, 19 September 2026 - 14:57 WIB

Polresta Malang Kota Raih Kompolnas Awards 2026, Terbaik Nasional Kategori Polres Kelompok C

Sabtu, 19 September 2026 - 13:37 WIB

Komjen Pol. (P) Prof. Dr. Chrysnanda Dwilaksana, Dorong Penguatan Ilmu Kepolisian Bidang Lingkungan di Universitas Riau

Sabtu, 19 September 2026 - 13:35 WIB

Polres Blitar dan Tim Gabungan Dirikan Posko Darurat Tangani Karhutla Gunung Butak

Sabtu, 19 September 2026 - 13:34 WIB

Kapolri Dorong Silat dan Debus Banten Jadi Sumber Devisa Daerah

Berita Terbaru

BERITA POLRI

Kapolri Minta Pesanggrahan Tjimande Dibuka untuk Semua Peguron

Sabtu, 19 Sep 2026 - 18:38 WIB

BERITA POLRI

Kapolri: Kompolnas Awards Motivasi Polri Berikan Pelayanan Terbaik

Sabtu, 19 Sep 2026 - 14:58 WIB