Bekti Desa di Pepunden Eyang Kapiludin, Komunitas Arek Arek Nusantara Ajak Generasi Muda Lestarikan Warisan Leluhur

- Penulis

Senin, 27 Juli 2026 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sentralmerahputih.id | SURABAYA – Komunitas Arek Arek Nusantara bersama KOPI (Komunitas Pemuda Independent) kembali menggelar tradisi Bekti Desa di kawasan Pepunden Eyang Kapiludin, Jarak Dolly, Putat Jaya, Surabaya, Minggu (27/7/2026).

Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun itu menjadi wujud penghormatan kepada para leluhur sekaligus upaya menjaga nilai-nilai budaya Nusantara agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bekti Desa merupakan tradisi yang telah lama dikenal di sejumlah daerah di Jawa sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada para pendiri desa atau kampung yang diyakini telah membuka peradaban dan meletakkan dasar kehidupan masyarakat setempat.

Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk mengingat asal-usul kampung, menjaga kerukunan, dan melestarikan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Juru Bicara Arek Arek Nusantara, Ki Ageng Kinco, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur yang telah membuka jalan bagi kehidupan generasi sekarang.

“Bekti Desa adalah wujud rasa syukur kami kepada para leluhur. Berkat perjuangan mereka, masyarakat dapat hidup, bekerja, dan membangun kehidupan hingga saat ini. Tradisi ini menjadi pengingat agar kita tidak melupakan sejarah serta asal-usul kampung tempat kita berpijak,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, peserta menggelar doa bersama, mengheningkan cipta, serta melantunkan tembang-tembang Jawa yang sarat makna filosofis.

Menurut Ki Ageng Kinco, rangkaian tersebut merefleksikan penghormatan terhadap ajaran leluhur yang dikenal sebagai Kapitayan, yang kini dipahami sebagai bagian dari tradisi para Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga:  Monumen Bung Tomo Segera Dibangun di Bundaran Waru, Simbol Keberanian Arek-arek Suroboyo

Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada generasi tua semata. Keterlibatan kaum muda dinilai menjadi kunci agar simbol, nilai, dan jejak sejarah peninggalan leluhur Nusantara tetap terjaga.

“Kami ingin generasi muda mengenal tetenger atau simbol-simbol warisan leluhur. Jangan sampai akar budaya bangsa hilang karena perkembangan zaman. Budaya adalah identitas yang harus dirawat bersama,” katanya.

Selain itu, Arek Arek Nusantara juga mengapresiasi langkah pemerintah yang telah menetapkan 13 Juli sebagai Hari Besar atau Hari Lahir Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut mereka, pengakuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat penghormatan terhadap keberagaman budaya dan keyakinan yang tumbuh di Indonesia.

“Semoga seluruh penghayat kepercayaan dan masyarakat Nusantara terus menjaga semangat Memayu Hayuning Bawana, yakni menciptakan kehidupan yang harmonis, damai, dan membawa kebaikan bagi sesama serta alam semesta,” tutup Ki Ageng Kinco.

Tradisi Bekti Desa yang digelar di Pepunden Eyang Kapiludin tersebut menjadi salah satu bentuk pelestarian kearifan lokal di kawasan Putat Jaya.

Di tengah modernisasi, kegiatan semacam ini dinilai memiliki nilai edukatif karena mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga sejarah, budaya, dan identitas bangsa sebagai bagian dari kekayaan peradaban Indonesia.(*/rif)

Berita Terkait

Rebo Wekasan 2026 Jatuh Hari Ini, Benarkah Hari Turunnya Bala?
Penghayat Kepercayaan di Surabaya Peringati Hari Kelahiran 13 Juli, Serukan Pelestarian Budaya dan Penghapusan Diskriminasi
KKSS dan Masyarakat Tengger Teguhkan Persaudaraan Budaya di Lereng Bromo
Perkuat Peran UMKM Lintas Suku, FPK Jatim Gelar Dialog Akselerasi Pembauran dan Seminar UMKM
Misi Budaya Makassar Perkuat Jembatan Seni dan Tradisi di Surabaya
Surin Welangon : Aplikasi Roblox Bisa Membunuh Masa Depan Anak
Tingkatkan Persatuan Untuk Indonesia Damai, Keluarga Besar Sulawesi Selatan di Surabaya Peringati Maulid Nabi Muhammad
Monumen Bung Tomo Segera Dibangun di Bundaran Waru, Simbol Keberanian Arek-arek Suroboyo
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 18:38 WIB

Kapolri Minta Pesanggrahan Tjimande Dibuka untuk Semua Peguron

Sabtu, 19 September 2026 - 18:37 WIB

Riding ke Gunung Kelud, Polres Kediri dan Awak Media Suarakan Kesiapsiagaan Bencana

Sabtu, 19 September 2026 - 18:36 WIB

Polres Lamongan Beri Penghargaan Empat Warga yang Gagalkan Curanmor di Puskesmas Deket

Sabtu, 19 September 2026 - 14:58 WIB

Kapolri: Kompolnas Awards Motivasi Polri Berikan Pelayanan Terbaik

Sabtu, 19 September 2026 - 14:57 WIB

Polresta Malang Kota Raih Kompolnas Awards 2026, Terbaik Nasional Kategori Polres Kelompok C

Sabtu, 19 September 2026 - 13:37 WIB

Komjen Pol. (P) Prof. Dr. Chrysnanda Dwilaksana, Dorong Penguatan Ilmu Kepolisian Bidang Lingkungan di Universitas Riau

Sabtu, 19 September 2026 - 13:35 WIB

Polres Blitar dan Tim Gabungan Dirikan Posko Darurat Tangani Karhutla Gunung Butak

Sabtu, 19 September 2026 - 13:34 WIB

Kapolri Dorong Silat dan Debus Banten Jadi Sumber Devisa Daerah

Berita Terbaru

BERITA POLRI

Kapolri Minta Pesanggrahan Tjimande Dibuka untuk Semua Peguron

Sabtu, 19 Sep 2026 - 18:38 WIB

BERITA POLRI

Kapolri: Kompolnas Awards Motivasi Polri Berikan Pelayanan Terbaik

Sabtu, 19 Sep 2026 - 14:58 WIB