sentralmerahputih.id | MINA – Tangis, keluhan lemas, hingga jemaah yang harus diinfus mewarnai kondisi memprihatinkan yang dialami jemaah haji asal Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, yang tergabung dalam Kloter 72 di Mina, Arab Saudi, Rabu (27/5/2026).
Di tengah suhu panas yang menyengat dan padatnya rangkaian ibadah haji, para jemaah dilaporkan belum menerima makanan sejak pagi hari usai melaksanakan lontar Jumrah Aqabah.
Ironisnya, distribusi konsumsi baru tiba sekitar pukul 16.30 waktu Arab Saudi, atau hampir sembilan jam setelah para jemaah tiba di Mina sekitar pukul 07.00 pagi.
Selama berjam-jam, ribuan jemaah hanya bertahan dengan air putih dan air es untuk menahan lapar serta dahaga di tengah kondisi tenda yang disebut sangat panas dan sesak.
Akibat keterlambatan tersebut, kondisi sejumlah jemaah mulai tumbang. Banyak lansia dilaporkan kelelahan dan lemas karena tidak mendapat asupan makanan setelah menjalani ibadah yang menguras tenaga.
Bahkan satu jemaah harus mendapatkan penanganan medis hingga diinfus karena kondisinya terus menurun.
Lebih tragis lagi, rekomendasi dokter agar sebagian jemaah lansia segera menjalani tanazul demi keselamatan mereka disebut belum mendapat keputusan dari Ketua Kloter hingga sore hari.
Petugas Haji Daerah (PHD) Kloter 72 asal Bangkalan, Aliman Harish, mengaku kondisi para jemaah semakin mengkhawatirkan seiring molornya distribusi makanan.
“Jemaah sudah mulai banyak yang lemas karena belum makan dari pagi. Setelah lontar Jumrah Aqabah mereka hanya bertahan dengan air es. Ini sangat berbahaya bagi lansia dan jemaah yang punya riwayat sakit,” ujar Aliman, melalui rilis yang diterima redaksi, Kamis (28/5/2026).
Ia menegaskan bahwa keterlambatan konsumsi di tengah cuaca ekstrem bukan persoalan kecil, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan dan keselamatan jemaah.
“Kebutuhan makan itu vital. Jangan sampai jemaah yang datang untuk beribadah justru jatuh sakit karena hak dasarnya tidak terpenuhi,” tegasnya.
Peristiwa ini kembali memunculkan sorotan terhadap kesiapan layanan haji Indonesia di Tanah Suci, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar jemaah saat puncak ibadah berlangsung.
Desakan agar aparat penegak hukum turun tangan pun mulai bermunculan.
Sejumlah pihak berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut mengawasi dan menelusuri dugaan kelalaian maupun persoalan dalam distribusi layanan konsumsi jemaah haji.
Sebelumnya, Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI Marwan Dasopang bahkan telah mengingatkan keras petugas haji terkait distribusi konsumsi yang kerap bermasalah.
“Kalau hak makan tidak datang, nanti jemaah kelaparan. Kalau harus beli sendiri demi menyelamatkan jemaah, mungkin itu satu-satunya jalan,” kata Marwan dalam arahannya kepada para ketua kloter di Makkah beberapa hari lalu.
Kini, kondisi Kloter 72 Bangkalan menjadi potret buram pelayanan haji di tengah jutaan jemaah yang tengah berjuang menjalankan ibadah di bawah panas ekstrem Arab Saudi.(*)












