sentralmerahputih.id | SURABAYA – Semangat mengisi kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia diwujudkan warga RW 13, Kelurahan Babatjerawat, Kecamatan Pakal, Surabaya, melalui karnaval budaya yang digelar pada Minggu (30/8/2026).
Sejak pukul 06.00 WIB, jalan-jalan di lingkungan RW 13 berubah menjadi panggung budaya.
Warga dari berbagai RT tampil mengenakan kostum dan memainkan karakter dari beragam legenda Nusantara.
Karnaval tersebut tidak hanya menghadirkan kemeriahan khas perayaan HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga mengangkat kembali cerita rakyat yang mulai jarang ditemui dalam keseharian generasi muda.
Sejumlah legenda yang ditampilkan antara lain Bawang Merah dan Bawang Putih, Keong Emas, Roro Jonggrang, Joko Tarub, Si Pitung, Ramayana, Jaranan, Reog Ponorogo hingga Ande-Ande Lumut.
Masing-masing RT membawa tema dan pesan berbeda.
RT 07 menampilkan Bawang Merah dan Bawang Putih dengan pesan mengenai ketulusan dan keserakahan. RT 08 mengangkat Keong Emas yang sarat dengan nilai kesetiaan dan keteguhan.
Sementara RT 06 menghadirkan Jaranan dan Reog Ponorogo, sedangkan RT 05 menampilkan kisah Ramayana yang menggambarkan keberanian dan pengorbanan.
Adapun RT 04 mengangkat Joko Tarub, RT 03 menampilkan sosok Si Pitung, RT 02 membawa legenda Roro Jonggrang, dan RT 01 menampilkan Ande-Ande Lumut dengan pesan mengenai kejujuran, ketulusan dan martabat.
Yang menarik, warga tidak sekadar mengenakan pakaian tradisional atau kostum tokoh legenda.
Mereka juga memainkan karakter melalui ekspresi, gerakan, dialog hingga adegan teatrikal.
Kondisi tersebut membuat jalan kampung seolah berubah menjadi panggung pertunjukan terbuka.
Anak-anak dan remaja yang selama ini tumbuh di tengah derasnya perkembangan teknologi dan dunia digital pun mendapat kesempatan mengenal cerita rakyat secara langsung.
Tokoh masyarakat Babatjerawat Idasfiar, mengapresiasi keterlibatan warga dalam kegiatan tersebut.
“Antusiasme warga luar biasa. Mulai dari ketua RT, ibu-ibu PKK, ibu-ibu Dasawisma hingga seluruh keluarga ikut terlibat. Orang tua dan anak-anak larut dalam suasana. Inilah bentuk keguyuban yang harus terus dijaga,” ujarnya, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, kemeriahan karnaval tidak terlepas dari kerja bersama masyarakat. Persiapan dilakukan secara gotong royong, mulai dari pembuatan properti, penyiapan kostum hingga latihan memainkan karakter.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan di tingkat kampung tidak hanya dapat menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Budaya Dibawa Kembali ke Tengah Masyarakat
Karnaval budaya RW 13 Babatjerawat juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga warisan budaya di tengah modernisasi.
Cerita rakyat yang selama ini dikenal melalui buku, cerita lisan atau tayangan digital dibawa kembali ke ruang publik dan diperkenalkan secara langsung kepada generasi muda.
Langkah tersebut menjadi penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi atau penyimpanan arsip.
Budaya membutuhkan ruang untuk dipraktikkan dan dikenalkan secara berkelanjutan.
Melalui karnaval, anak-anak tidak hanya mendengar nama Roro Jonggrang, Si Pitung, Keong Emas atau Ande-Ande Lumut.
Mereka melihat karakter tersebut dimainkan di depan mata sekaligus memahami pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Di sisi lain, keterlibatan keluarga juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga dan kampung tempat masyarakat tinggal.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama
Di balik kemeriahan kostum dan pertunjukan, terdapat proses gotong royong yang melibatkan banyak warga.
Orang tua, anak-anak, remaja, ibu-ibu PKK, Dasawisma hingga para pengurus RT terlibat dalam persiapan kegiatan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu nilai penting yang muncul dari pelaksanaan karnaval.
Bukan hanya mengenai siapa yang memiliki kostum paling menarik atau pertunjukan paling meriah, melainkan bagaimana masyarakat mampu menyatukan tenaga dan kreativitas untuk menciptakan sebuah kegiatan bersama.
Semangat tersebut sekaligus menjadi salah satu cara warga memaknai kemerdekaan.
Kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara atau perlombaan, tetapi juga melalui kegiatan yang memperkuat persatuan, kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Karnaval RW 13 Babatjerawat akhirnya menjadi gambaran bahwa perayaan kemerdekaan dapat dikemas dengan cara kreatif tanpa meninggalkan akar budaya.
Ketika iring-iringan berakhir, warga tidak hanya membawa pulang dokumentasi berupa foto dan video.
Ada pesan yang lebih panjang: bahwa legenda akan tetap hidup selama ada generasi yang bersedia menceritakan dan memerankannya.
Dari sebuah kampung di Kecamatan Pakal, warga RW 13 Babatjerawat menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak harus selalu dimulai dari panggung besar.
Cukup dimulai dari lingkungan sendiri, melibatkan keluarga, mengajak anak-anak dan bergerak bersama.
Sebab, bangsa yang terus melangkah menuju masa depan tetap membutuhkan akar untuk menjaga identitasnya.
Di Babatjerawat, legenda Nusantara tidak hanya diceritakan. Legenda turun ke jalan dan kembali hidup bersama masyarakat.(*)












