Sosialisasi Empat Pilar, LaNyalla Ajak Generasi Muda Maknai Pancasila sebagai Navigasi Kehidupan Bangsa

- Penulis

Rabu, 11 Februari 2026 - 14:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sentralmerahputih.id | SURABAYA – Anggota MPR RI yang juga anggota DPD RI daerah pemilihan Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyoroti cara pandang generasi muda terhadap Pancasila yang dinilainya kian memprihatinkan. Ia menilai, melemahnya pemahaman tersebut menjadi sinyal serius bagi masa depan ideologi bangsa.

Hal itu diungkapkannya saat kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR dengan tema “Pancasila Sebagai Navigasi Generasi Muda” yang digelar di Surabaya, Selasa (10/2/2026).

LaNyalla mencontohkan fenomena yang belakangan ramai di media sosial, salah satunya tayangan YouTube yang menampilkan wawancara acak dengan siswa di sekolah. Dalam tayangan tersebut, sejumlah siswa tidak mampu menyebutkan sila-sila Pancasila secara lengkap dan berurutan. “Yang membuat miris adalah ada beberapa siswa yang tidak hafal Pancasila,” ujar LaNyalla.

Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil survei Setara Institute pada Mei 2023 terhadap siswa SMA di lima kota besar di Indonesia. Salah satu temuan menyebutkan bahwa 83,3 persen responden menganggap Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti.

Menurut Ketua DPD RI periode 2019–2024 tersebut, temuan itu menunjukkan bahwa sebagian generasi muda tidak lagi memandang Pancasila sebagai sesuatu yang sakral. “Artinya, generasi muda mungkin tidak menganggap Pancasila sebagai karya para pendiri bangsa yang bersifat final, melainkan sebagai kesepakatan yang harus terus dibuktikan manfaatnya dalam kehidupan nyata,” katanya.

Ia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang memengaruhi persepsi tersebut. Faktor pertama adalah kesenjangan nilai antara teks Pancasila dan realitas yang dirasakan anak muda. “Sila kelima bicara keadilan, tapi yang mereka lihat justru korupsi dan ketimpangan ekonomi,” ujarnya.

Faktor kedua adalah cara penyampaian Pancasila yang dinilai kurang relevan dengan kehidupan generasi muda. LaNyalla menilai pendekatan yang terlalu teoritis dan formal membuat Pancasila terasa jauh dari persoalan nyata, seperti mencari pekerjaan dan tantangan hidup anak muda.

Selain itu, paparan ideologi global melalui media sosial juga turut membentuk cara pandang generasi muda. “Mereka terpapar liberalisme, hedonisme, hingga paham keagamaan ekstrem yang sering menawarkan solusi instan atas masalah sosial,” kata LaNyalla.

Ia menegaskan, kondisi tersebut merupakan persoalan serius bagi bangsa. “Fenomena banyaknya generasi muda yang tidak memahami, bahkan tidak hafal Pancasila, adalah warning atau alarm bagi bangsa,” tegasnya.

LaNyalla mengibaratkan Pancasila sebagai navigasi kehidupan berbangsa. “Dalam bahasa gaulnya, Pancasila itu Google Map untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:  Sahroni: Meningkatnya Kepercayaan Publik Jadi Bukti Kinerja Polri Dirasakan Masyarakat

Ia menambahkan, nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan dengan agama. “Kalau agama itu tuntunan universal, Pancasila adalah panduan hidup berbangsa dan bernegara, dan keduanya tidak saling bertentangan,” kata LaNyalla.

Lebih lanjut, ia menjabarkan penerapan Pancasila dalam kehidupan generasi muda sehari-hari, mulai dari integritas dalam bekerja sebagai wujud sila pertama, hingga empati dan adab di ruang digital sebagai cerminan sila kedua.

“Sila ketiga itu tentang kolaborasi dan networking, sila keempat tentang keterbukaan dalam berdiskusi, dan sila kelima tentang etos kerja. Adil itu dimulai dari kontribusi terbaik yang kita berikan,” ujarnya.

Menurut LaNyalla, generasi muda tidak harus menjadi politisi untuk mengamalkan Pancasila. “Kalian cukup menjadi mahasiswa yang jujur, pelajar yang berprestasi tanpa menjatuhkan orang lain, dan pengguna media sosial yang berakal sehat. Itulah Pancasila dalam tindakan. Jadilah generasi yang cerdas secara digital, tapi juga kokoh secara moral,” tukas LaNyalla.

LaNyalla juga mengingatkan generasi muda agar selalu berfikir kritis dan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Ia menilai media sosial kerap menyajikan informasi yang belum tentu benar dan dapat menyesatkan jika tidak disikapi secara kritis.

Pandangan senada disampaikan Sekretaris Jenderal DPW Pemuda Pancasila Jawa Timur, M. Diah Agus Muslim. Ia menilai media sosial dalam lima tahun terakhir telah menjadi referensi utama yang paling mudah diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Ia menjelaskan, banyak pengguna media sosial berhenti pada informasi yang dibaca sekilas tanpa melakukan pendalaman atau pengecekan lanjutan. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat generasi muda langsung berhadapan dengan berbagai persoalan dan nilai-nilai baru tanpa bekal pemahaman yang memadai.

“Akibatnya, batas antara yang benar dan yang salah menjadi kabur. Dulu, yang benar terlihat benar dan yang salah kelihatan salah. Sekarang, semuanya seolah abu-abu,” ujarnya.

Ia mengakui, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. “Kalau generasi kami dulu, relatif lebih jelas mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, tekanannya jauh lebih berat,” ujarnya.

“Ini tidak mudah, tapi harus dihadapi bersama. Generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, generasi muda harus kembali ke Pancasila, menjadikan Pancasila sebagai navigasi kehidupan bangsa agar tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang menyesatkan,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait

Istana Nilai Dugaan Penyadapan Presiden Mengarah ke Perbuatan Makar
Urai Konflik Agraria, BRAN Dorong Integrasi Satu Data Nasional
Bappenas dan BRAN Bersinergi: Percepat Pemerataan dan Kesejahteraan Rakyat, 23 Ribu Hektare Tanah Siap Diredistribusi
Buntut Penggerebekan Ponpes Hamalatul Quran, Kapolri Copot Kapolres Sukoharjo
Giant Sea Wall Pantura Disiapkan, BRAN Kawal Kepastian Tanah dan Perlindungan Nelayan
Kapolda Ungkap Alasan Brimob Gerebek Ponpes Hamalatul Quran di Sukoharjo, Buru DPO Pembakaran Warung Mi Babi
Pemerintah Siapkan Insentif Fiskal Rp 1 Triliun Bagi Daerah Pendukung Program MBG
BRAN dan Komnas HAM Perkuat Sinergi, Dorong Penyelesaian Konflik Agraria Berbasis HAM
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 18:49 WIB

12 Rumah Rusak Diterjang Angin, Polsek Temayang Bersama Koramil dan Instansi Terkait Bantu Warga

Kamis, 5 November 2026 - 17:17 WIB

Polsek Geneng Amankan Popda XV Jawa Timur 2026 Cabang Basket Di GOR Bung Hatta Ngawi

Kamis, 5 November 2026 - 15:44 WIB

Kapolda Jatim Silaturahmi ke PWNU, Perkuat Sinergi Kamtibmas dan Perlindungan Santri

Kamis, 5 November 2026 - 15:43 WIB

Kapolda Jatim Sambangi BLK Surabaya, Dukung Siapkan Tenaga Kerja Kompeten dan Berdaya Saing

Kamis, 5 November 2026 - 15:42 WIB

Polres Sampang Bentengi Santri dari Narkoba dan Bullying, Sukseskan Indonesia Emas 2045

Kamis, 5 November 2026 - 14:48 WIB

Polres Pelabuhan Tanjung Perak Cangkrukan Bareng Ojol Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Kamis, 5 November 2026 - 14:47 WIB

Polresta Sumenep Rajut Silaturahmi dengan Tokoh Agama, Perkuat Sinergi Kamtibmas

Kamis, 5 November 2026 - 10:04 WIB

Polres Lumajang Berikan Trauma Healing Warga Terdampak Banjir Lahar Semeru

Berita Terbaru