Hari Lingkungan Hidup, Dari Pesisir Nusa Lembongan, PLN Bangun Kemandirian Ekonomi Melalui Rumput Laut

- Penulis

Senin, 26 Mei 2025 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sentralmerahputih.id | NUSA LEMBONGAN – Pagi itu, di pesisir Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan, Bali, riuh suara petani rumput laut terdengar seperti simfoni yang mengiringi matahari naik perlahan dari timur. Tangan-tangan tangguh tengah memanen hasil budidaya mereka untuk pertama kalinya, awal dari perubahan besar yang sudah lama ditunggu.

Desa Jungut Batu dikenal sebagai destinasi wisata tenang nan eksotik. Di balik keindahannya, tersembunyi potensi luar biasa yaitu rumput laut. Kini, potensi itu semakin berkembang berkat inisiatif Desa Berdaya Rumput Laut yang diresmikan pada Selasa (20/5), sebuah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pemberdayaan masyarakat pesisir yang diinisiasi PT PLN (Persero) bekerja sama dengan Yayasan Jaga Alam Sejahtera dan melibatkan kelompok petani rumput laut lokal.

Ketua Harian Yayasan Jaga Alam Sejahtera, Mayuni, mengungkapkan rasa optimisnya dengan kehadiran program Desa Berdaya PLN.

“Komponen program ini mencakup pelatihan, pendampingan, inovasi budidaya, hingga pemasaran. Dengan dukungan fasilitas seperti bank bibit unggul dan teknologi pengering, kami optimis program ini akan membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” katanya.

Deputi Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Informasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Tedi Bharata menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan program ini. Menurutnya, rumput laut bukan sekadar tanaman biasa, namun potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.

“Saya melihat bagaimana lingkungan berjaya dengan rumput lautnya. Para petani mulai beralih dari cara tradisional ke metode yang lebih modern. Potensi rumput laut sangat besar, tidak hanya untuk pariwisata tetapi juga untuk produk olahan seperti nori. Kolaborasi adalah kunci keberhasilan program ini, dan PLN telah menjadi mitra yang solid sejak awal,” ujarnya.
PLN hadir tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga pendekatan yang menyeluruh. Berbagai sarana penunjang disediakan untuk mendukung budidaya, melibatkan 54 warga dalam sosialisasi intensif, serta menggelar audiensi dengan Kepala Desa untuk pembentukan koperasi. Guna mendukung keberlanjutan program, Universitas Udayana juga turut dilibatkan dalam memberikan pendampingan teknis.

Baca Juga:  Wujud Kontribusi ke Negara, PLN Setor Rp65,59 Triliun Lewat Dividen, Pajak, dan PNBP, Listrik untuk Rakyat

Hasilnya mulai terlihat nyata. Produksi rumput laut meningkat hingga empat kali lipat dibanding metode konvensional. Pendapatan petani melonjak antara 20 hingga 40 persen. Lebih dari 50 warga terserap dalam rantai kerja baru, dan 2 hektare lahan laut yang sebelumnya terbengkalai kini kembali produktif dan lestari. Laut bukan lagi sekadar latar indah bagi para wisatawan, melainkan sumber hidup yang berkelanjutan bagi warganya.

Gregorius Adi Trianto, Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PLN, menegaskan bahwa kehadiran PLN kini bukan hanya menyediakan listrik andal, namun bagian integral dari penggerak ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan.

“Kami ingin menyalakan masa depan. Program ini bukan hanya menghidupkan ekonomi lokal melalui budidaya rumput laut, tapi juga turut menjaga kelestarian terumbu karang, ekosistem laut, dan membuka ruang baru bagi pariwisata edukatif,” ujarnya.

Di balik seluruh aktivitas itu, PLN secara nyata telah mengintegrasikan program ini dengan target-target _Sustainable Development Goals_ (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, penanganan perubahan iklim, dan pelestarian ekosistem laut.

Ke depan, geliat Desa Jungut Batu belum akan berhenti. PLN bersama para stakeholder tengah menyiapkan pembentukan koperasi petani sebagai kekuatan ekonomi baru. Pemasaran akan diperluas, bahkan penjajakan ekspor produk turunan rumput laut mulai dilakukan. Wisata edukasi berbasis rumput laut juga dirancang agar masyarakat tak hanya menanam dan memanen, tapi juga mengundang dunia untuk belajar dari desa mereka. (Tyaz)

Berita Terkait

Asap Karhutla Masih Terpantau di Gunung Lawu, 67 Relawan Magetan Bergabung Bantu Pemadaman
Sinergi Pengawasan Pelayanan, Rutan Surabaya Terima Kunjungan Ombudsman RI
Kapolri: Pengabdian Polri Berorientasi pada Kepentingan Masyarakat
Polri Terus Perkuat Penanganan Karhutla, Tambahan Personel Brimob Dikirim dari Luar Daerah
Tragis! Rombongan Suporter PSS Sleman Kecelakaan di Tol Madiun, Empat Orang Dikabarkan Meninggal Dunia
Silaturahmi dengan Ulama se-Jatim, Kapolri Ajak Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Ratusan Personel Gabungan Gerebek Jalan Kunti Surabaya, Belasan Orang Diamankan
Miris! Belum Kantongi Tiket Pulang, 11 Jemaah Umrah Asal Suramadu Tertahan di Jeddah
Tag :
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 02:22 WIB

Sedekah Bumi Desa Pabean 2026 Hadirkan Gus Muhammad Iqdam, GSN Sebarkan Edukasi Bahaya Narkoba

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:25 WIB

Rebo Wekasan 2026 Jatuh Hari Ini, Benarkah Hari Turunnya Bala?

Senin, 27 Juli 2026 - 20:16 WIB

Bekti Desa di Pepunden Eyang Kapiludin, Komunitas Arek Arek Nusantara Ajak Generasi Muda Lestarikan Warisan Leluhur

Kamis, 9 Juli 2026 - 15:01 WIB

Penghayat Kepercayaan di Surabaya Peringati Hari Kelahiran 13 Juli, Serukan Pelestarian Budaya dan Penghapusan Diskriminasi

Senin, 6 Juli 2026 - 11:02 WIB

KKSS dan Masyarakat Tengger Teguhkan Persaudaraan Budaya di Lereng Bromo

Rabu, 26 November 2025 - 15:39 WIB

Perkuat Peran UMKM Lintas Suku, FPK Jatim Gelar Dialog Akselerasi Pembauran dan Seminar UMKM

Minggu, 16 November 2025 - 06:18 WIB

Misi Budaya Makassar Perkuat Jembatan Seni dan Tradisi di Surabaya

Jumat, 17 Oktober 2025 - 15:57 WIB

Surin Welangon : Aplikasi Roblox Bisa Membunuh Masa Depan Anak

Berita Terbaru