Keteladanan Pemimpin dalam Menjaga Ideologi Pancasila

- Penulis

Kamis, 13 November 2025 - 09:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Nursalim, M.Pd.

1. Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau
2. Ketua ADOBSI Provinsi Kepulauan Riau

Dalam setiap babak sejarah bangsa, selalu ada sosok pemimpin yang muncul bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena panggilan zaman. Mereka hadir dengan keteguhan hati, keberanian moral, dan kesetiaan yang utuh terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Dalam konteks Indonesia, keteladanan pemimpin menjadi fondasi penting dalam menjaga kemurnian ideologi Pancasila di tengah perubahan sosial, politik, dan budaya yang begitu cepat.

Pancasila bukan sekadar dasar negara yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945, tetapi merupakan jiwa yang menghidupkan seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tugas pemimpin sejati adalah memastikan bahwa nilai-nilai itu tidak hanya dihafal, melainkan dihayati dan diamalkan dalam setiap kebijakan dan tindakan nyata. Ketika pemimpin menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, maka di sanalah ideologi Pancasila hidup dalam praktik yang sesungguhnya.

Namun, tantangan terbesar bangsa hari ini bukan semata pada lemahnya pemahaman ideologi, melainkan pada semakin kaburnya teladan moral dan karakter kepemimpinan. Dunia digital yang penuh disinformasi sering menenggelamkan figur pemimpin yang tulus dan mengagungkan kepemimpinan yang hanya sebatas pencitraan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan figur yang mampu menjadi mercusuar moral — pemimpin yang tidak mudah tergoda oleh kekuasaan, harta, dan kepentingan politik sesaat.

Keteladanan pemimpin tidak diukur dari lamanya masa jabatan atau banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan dari seberapa besar pengaruhnya dalam menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal banyak pemimpin yang lahir dari kesederhanaan, namun memiliki kebesaran jiwa untuk mengorbankan dirinya demi bangsa. Nilai inilah yang harus dihidupkan kembali oleh generasi muda dan para pemangku kebijakan masa kini.

Baca Juga:  Ditpolairud Polda Jatim Siagakan 2 Kapal Patroli Amankan Selat Bali Selama Libur Panjang

Menjaga Pancasila berarti menjaga jati diri bangsa. Seorang pemimpin yang berjiwa Pancasila akan menempatkan persatuan di atas perpecahan, musyawarah di atas egoisme, dan keadilan di atas kepentingan kelompok. Dalam kerangka ini, pendidikan, budaya, dan media harus menjadi alat pembentuk kesadaran kolektif bahwa ideologi bangsa tidak boleh tergantikan oleh ideologi lain yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Sebagai pendidik dan penggerak literasi kebangsaan, saya percaya bahwa regenerasi kepemimpinan harus diarahkan pada pembentukan karakter dan integritas. Setiap calon pemimpin perlu dididik bukan hanya untuk pandai berbicara, tetapi juga berani bertindak benar. Kepemimpinan yang berakar pada moralitas dan nilai-nilai Pancasila akan menjadi benteng yang kokoh bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa tanpa kesalahan, tetapi bangsa yang selalu belajar dari sejarah dan memperbaiki diri. Keteladanan pemimpin adalah cermin masa depan sebuah negara jika cerminnya bersih, maka teranglah jalan yang akan dilalui bangsa. Oleh karena itu, sudah saatnya kita meneguhkan kembali semangat Pancasila dalam jiwa kepemimpinan Indonesia, agar negeri ini tetap tegak berdiri di atas dasar moral, kebijaksanaan, dan cinta tanah air yang sejati.

Berita Terkait

Jumat Pagi dan Pilkada DPRD
Setiap Langkah Kecil Berhak Menggapai Puncak yang Tinggi
Dampak merokok terhadap kesehatan dan keluarga: bahaya nyata yang sering diabaikan
Jusuf Kalla (JK) Telah Menyalakan Obor Keadilan dari Makassar
Whoosh dan Komitmen Anti Korupsi Itu: Omon-omon? Oleh : Agus Wahid
Catatan Mubes Pemuda Pancasila XI : Aktifkan Kembali Partai Patriot
Picu Banjir, Perubahan Lahan Tambak Jadi Pergudangan di Kawasan Tambak Osowilangon, DLH Harus Bertanggung Jawab
Kejahatan Rekening Bansos Fiktif: Siapa yang Mampu Mengorganisir?
Berita ini 27 kali dibaca
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 16:44 WIB

Hadiri Pemakaman, Kapolri: Pesan Eyang Meri Jadi Inspirasi dan Semangat Keluarga Besar Polri

Rabu, 4 Februari 2026 - 15:31 WIB

Tingkatkan Profesionalisme Penyidik Polres Kediri Kota menggelar sosialisasi Perubahan KUHP dan KUHAP

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:53 WIB

Polres Trenggalek Kampanyekan Operasi Keselamatan Semeru 2026 Dengan ‘Muncak Bareng’

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:49 WIB

Ops Keselamatan Semeru 2026 Polresta Malang Kota Gelar Ramp Check Bus dan Angkot

Selasa, 3 Februari 2026 - 21:25 WIB

Unik..! Polres Blitar Kota Terjunkan Gatotkaca dan Werkudara Sosialisasikan Ops Keselamatan Semeru 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:14 WIB

Polres Jember Gelar Operasi Keselamatan Semeru 2026 Ciptakan Budaya Tertib Lalin

Selasa, 3 Februari 2026 - 10:09 WIB

Ops Keselamatan Semeru 2026 Digelar 14 Hari, Polres Batu Fokus Tertibkan Lalu Lintas

Selasa, 3 Februari 2026 - 06:47 WIB

Pasang Alarm Gratis di Polsek Wonocolo Sepuluh Pendaftar Pertama Diberi Bonus Buah Durian

Berita Terbaru