Oleh: Dr. Nursalim, M.Pd.
1. Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau
2. Ketua ADOBSI Provinsi Kepulauan Riau
Dalam setiap babak sejarah bangsa, selalu ada sosok pemimpin yang muncul bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena panggilan zaman. Mereka hadir dengan keteguhan hati, keberanian moral, dan kesetiaan yang utuh terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Dalam konteks Indonesia, keteladanan pemimpin menjadi fondasi penting dalam menjaga kemurnian ideologi Pancasila di tengah perubahan sosial, politik, dan budaya yang begitu cepat.
Pancasila bukan sekadar dasar negara yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945, tetapi merupakan jiwa yang menghidupkan seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tugas pemimpin sejati adalah memastikan bahwa nilai-nilai itu tidak hanya dihafal, melainkan dihayati dan diamalkan dalam setiap kebijakan dan tindakan nyata. Ketika pemimpin menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi, maka di sanalah ideologi Pancasila hidup dalam praktik yang sesungguhnya.
Namun, tantangan terbesar bangsa hari ini bukan semata pada lemahnya pemahaman ideologi, melainkan pada semakin kaburnya teladan moral dan karakter kepemimpinan. Dunia digital yang penuh disinformasi sering menenggelamkan figur pemimpin yang tulus dan mengagungkan kepemimpinan yang hanya sebatas pencitraan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan figur yang mampu menjadi mercusuar moral — pemimpin yang tidak mudah tergoda oleh kekuasaan, harta, dan kepentingan politik sesaat.
Keteladanan pemimpin tidak diukur dari lamanya masa jabatan atau banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan dari seberapa besar pengaruhnya dalam menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal banyak pemimpin yang lahir dari kesederhanaan, namun memiliki kebesaran jiwa untuk mengorbankan dirinya demi bangsa. Nilai inilah yang harus dihidupkan kembali oleh generasi muda dan para pemangku kebijakan masa kini.
Menjaga Pancasila berarti menjaga jati diri bangsa. Seorang pemimpin yang berjiwa Pancasila akan menempatkan persatuan di atas perpecahan, musyawarah di atas egoisme, dan keadilan di atas kepentingan kelompok. Dalam kerangka ini, pendidikan, budaya, dan media harus menjadi alat pembentuk kesadaran kolektif bahwa ideologi bangsa tidak boleh tergantikan oleh ideologi lain yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Sebagai pendidik dan penggerak literasi kebangsaan, saya percaya bahwa regenerasi kepemimpinan harus diarahkan pada pembentukan karakter dan integritas. Setiap calon pemimpin perlu dididik bukan hanya untuk pandai berbicara, tetapi juga berani bertindak benar. Kepemimpinan yang berakar pada moralitas dan nilai-nilai Pancasila akan menjadi benteng yang kokoh bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa tanpa kesalahan, tetapi bangsa yang selalu belajar dari sejarah dan memperbaiki diri. Keteladanan pemimpin adalah cermin masa depan sebuah negara jika cerminnya bersih, maka teranglah jalan yang akan dilalui bangsa. Oleh karena itu, sudah saatnya kita meneguhkan kembali semangat Pancasila dalam jiwa kepemimpinan Indonesia, agar negeri ini tetap tegak berdiri di atas dasar moral, kebijaksanaan, dan cinta tanah air yang sejati.












